الاجتهاد النص الواقع المصلحة الريسوني

الاجتهاد النص الواقع المصلحة الريسوني

عن الكتاب

Diantara adab terhadap Al-Qur'an dan Sunnah adalah tidak gegabah melakukan istidlal dan istinbath hukum. Harus hati-hati. Perumpamaan memutilasi ayat Al-Qur'an dan Hadis untuk kepentingan pribadi --dengan mengabaikan pandangan ulama mu'tabar-- adalah seolah menggunakan keris pusaka untuk mengiris buah apel. Karena keduanya merupakan "bahan mentah", maka dibutuhkan para pakar (mufassir dan muhadditsin) yang dapat mengolah keduanya menjadi "bahan baku". Lalu diserahkan kepada para fuqaha untuk dikelola menjadi "produk" agar bisa disajikan kepada orang awam dikemas secara praktis, aplikatif, dan tidak expired.  Karena itu, slogan manis "kembali ke Al-Qur'an dan Sunnah" kurang tepat. Mengapa? Karena kita tidak pernah meninggalkan keduanya. Jadi, mengapa harus kembali? Kalaupun slogan ini diperuntukkan untuk kaum awam, malah sangat berbahaya. Sebab, butuh kapasitas keilmuan yang ditunjang kredibilitas untuk menerapkan slogan "kembali ke Al-Qur'an dan Sunnah" ini. Oleh karena itulah, para ul